“KURBAN PERASAAN” DITENGAH IDUL KURBAN

Moment Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Haji atau Idul Kurban adalah kegiatan mengorbankan sebagian apa yang kita miliki, apa yang kita cintai, berupa hewan atau sebagian uang dengan membeli hewan kurban, disembelih, kemudian diberikan kepada orang miskin, orang melarat, orang duafa dsb. Dasar hukum sebagai pijakan “kurban” ini lebih berat lagi yaitu Nabi Ibrahim mengorbankan (menyembelih) anaknya Nabi Ismail.

Makna Idul Kurban ini bila ditarik “garis” secara garis besar saya jadikan 3 kategori, pertama “kegiatannya” mulai membeli hewan, menyembelih, mem- bagi, memasak, me- makan, adalah amalan ibadah yang dapat pahala. Kedua “orang yang berkurban” me- relakan hewan yang dimiliki/uang yang di- miliki dibelikan hewan kurban diniatkan semata-mata demi “nyogok Allah SWT“ (ihlas), biar dimakan oleh orang miskin, orang melarat, orang duafa dsb & Insya Allah dia dapat pahala. Ketiga “penerima kurban” yang ditentukan Allah SWT adalah orang-orang yang memang jarang/tidak pernah makan daging yaitu orang miskin, orang melarat, orang duafa dsb biar mereka ikut merasakan enaknya makan daging.

Kenyatannya (menurut saya) akhir-akhir ini 3 kategori makna dari Idul Kurban telah mangalami pergeseran. Makna pertama “kegiatannya” sudah tidak lagi bernuansa ibadah demi pahala dimana penjual hewan aji mumpung mengeruk untung sebesar-besarnya, pengkurban & panitia kurban menyembelih, memasak & memakan sepuasnya tidak lagi bernuansa ibadah, tapi bernuansa pesta makan daging enak, bak wisata kuliner. Makna kedua “orang yang berkurban” diniatkan mengorbankan hewan biar dimakan oleh orang miskin, orang melarat, orang duafa dsb, demi berbagi & demi “nyogok Gusti Allah” (ihlas), tapi nyatanya lebih nampak membangun kesan demi menyenangkan orang sekitar/menyenangkan panitia kurban untuk sama-sama pesta makan daging.

Terutama makna yang ketiga yaitu “orang yang menerima” jadi berkembang kesemua jenis orang, orang kaya, orang yang setiap saat selalu makan daging, selalu makan enak, suka wisata kuliner. Asal mereka saudara yang kurban, tinggal di sekitar yang kurban, tinggal sekitar masjid/sekitar mushola/sekitar tempat “panitia” menyembelih, maka pasti ikut makan enak merasakan enaknya daging kurban. Tragisnya justru orang-orang yang oleh Allah SWT “diwajibkan” makan daging kurban, malah ada yang tidak makan. Mungkin karena mereka tinggalnya jauh jangkauannya, terpencil, dipegunungan, lokasi sulit didatangi.

Mungkin juga mereka terlupakan karena tidak ada hubungan dengan “yang berkurban”, tidak ada hubungan dengan tempat/panitia kurban, tidak berada di sekitar orang yang berkurban, tidak berada di sekitar tempat/panitia kurban. Sehingga mereka gigit jari “jadi korban” tidak ikut merasakan enaknya daging kurban. Orang miskin, orang melarat, orang duafa, dsb ini yang seharusnya makan daging kurban, hanya sekedar tahu ada Hari Raya Idul Kurban & hanya mendengar suara takbir Idul Kurban, tanpa tahu rasa enaknya daging kurban. Mereka “mengkurbankan perasaannya” untuk ikut makan daging kurban.

Seharusnya para pengkurban & para panitia kegiatan kurban meninjau kembali “kegiatan pesta makan-makan daging kurban ini”, sesuai dengan makna dasar dari ajaran Nabi Ibrahim diatas, yang utamanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memang sehari-harinya jarang/tidak pernah makan daging.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: